potretsukabumi.com | SUKABUMI – Desa Wisata Hanjeli yang berada di Desa Waluran Mandiri, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, merupakan destinasi eduwisata yang mengangkat hanjeli sebagai komoditas pangan lokal sekaligus bagian dari warisan budaya masyarakat setempat.
Melalui konsep wisata minat khusus, pengunjung diajak mengenal berbagai tahapan pengolahan hanjeli secara tradisional. Mulai dari kegiatan panen hanjeli, menumbuk biji hanjeli menggunakan lisung, menampi dengan nampah, hingga mengolahnya menjadi beragam produk makanan tradisional.
Berbagai aktivitas edukatif tersebut menjadi daya tarik tersendiri. Wisatawan dapat menyaksikan sekaligus mencoba proses pembuatan rengginang, mengolah dodol hanjeli dari tahap awal hingga selesai, serta membuat berbagai aksesori berbahan dasar hanjeli.
Pengalaman berwisata juga dilengkapi dengan sajian nasi liwet hanjeli yang menjadi salah satu kekayaan kuliner khas masyarakat lokal.
Dari sisi geografis, kawasan Desa Wisata Hanjeli berada di wilayah bentang alam Plato Jampang yang terbentuk dari proses geologi jutaan tahun lalu. Kawasan ini memiliki sejarah geologi yang berawal dari material endapan di lingkungan laut purba yang kemudian mengalami pengangkatan hingga membentuk daratan seperti saat ini.
Karakteristik tanah di kawasan Plato Jampang yang cenderung kering dan memiliki keterbatasan ketersediaan air menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pola pertanian masyarakat setempat.
Dalam kondisi tersebut, tanaman hanjeli memiliki keunggulan karena mampu tumbuh pada lahan dengan ketersediaan air dan unsur hara yang terbatas. Tanaman ini juga dikenal memiliki daya tahan terhadap kondisi kekeringan maupun genangan air, sehingga dapat dibudidayakan pada lahan yang tidak memiliki sistem irigasi permanen melalui pola pertanian huma.
Selain memiliki keunggulan dari aspek budidaya, hanjeli juga mempunyai hubungan historis dan budaya yang erat dengan kehidupan masyarakat Desa Waluran.
Keterikatan tersebut tercermin dari keberadaan berbagai peralatan tradisional yang digunakan dalam proses pengolahan hanjeli. Di antaranya etem atau ani-ani, arit, boboko, rakel, serta alat penumbuk hanjeli. Berbagai peralatan tersebut menjadi bukti bahwa hanjeli telah lama menjadi bagian dari tradisi pangan dan aktivitas keseharian masyarakat.
Pengembangan Desa Wisata Hanjeli tidak hanya berorientasi pada kegiatan pariwisata, tetapi juga mengedepankan prinsip keberlanjutan atau sustainable tourism dengan memperhatikan tiga unsur utama, yakni geologi (Geo), keanekaragaman hayati (Bio), dan kebudayaan (Culture).
Melalui pendekatan tersebut, Desa Wisata Hanjeli berupaya mengembangkan berbagai kegiatan usaha yang berakar pada karakter dan potensi lokal. Dengan demikian, masyarakat dapat merasakan manfaat langsung dari keberadaan desa wisata, baik melalui pelestarian tradisi, pengembangan produk lokal, maupun peningkatan peluang ekonomi.
Konsep ini diharapkan mampu menjadikan Desa Wisata Hanjeli sebagai destinasi edukasi dan wisata berkelanjutan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat berbasis kekayaan alam dan budaya lokal.



